Masih dengan tema perjalanan, kali ini saya ingin berbagi oleh-oleh berupa cerita perjalanan di salah satu negara eropa-asia yakni Turki. Banyak alasan mengapa kami memilih turki sebagai tujuan wisata. Selain karena nilai sejarahnya, turki juga disebut-sebut sebagai salah satu negara paling eksotis di eropa. Kami menggunakan jasa Transavia untuk menempuh perjalanan ke turki dari belanda. Berangkat sore hari dari Schipol Amsterdam, dengan menempuh perjalanan sekitar 4 setengah jam, kami tiba malam hari di bandara sabiha gocken. Sebagai pelajar yang tinggal di belanda kami harus membayar visa untuk masuk ke turki. Turki membebaskan visa untuk negara-negara tertentu seperti denmark, prancis, jepang, dan korea. Untuk informasi mengenai Visa turki bisa dilihat di sini. Waktu yang paling pas untuk berkunjung ke turki adalah pada saat musim semi (bulan april-mei) karena saat itu suhunya tidak terlalu panas dan enak untuk jalan-jalan.
Tempat wisata pertama yang kami kunjungi pada hari pertama di turki adalah Pamukkale. Pamukkale terletak di bagian utara turki, sekitar 18 km dari provinsi denizli. Untuk menuju ke sana, dari bandara sabiha gocken kita bisa naik jasa travel atau bus yang tersedia di bandara menuju tujuan Istanbul Atasher. Dari istanbul attasher kita lanjutkan perjalanan menuju denizli ottogar. Kami harus menempuh perjalanan cukup jauh dengan bis sekitar 8 jam untuk sampai di denizli otoghar. Beruntung karena perjalanan dilakukan malam hari sehingga kami bisa tidur dan beristirahat sepanjang perjalanan. Dari denizli menuju pamukkale kita bisa menggunakan dolmus, ‘angkotnya’ turki, selama kurang lebih 30 menit. Kami pun sampai di pamukkale pada siang hari.
Pamukkale terkenal dengan peninggalan sejarah dan juga keindahan alamnya. Nama Pamukkale sendiri berasal dari bahasa turki yang artinya ‘cotton castle‘ atau ‘benteng kapas’. Di tempat ini terdapat dua lokasi wisata utama yakni hierapolis dan travertines. Terdapat dua pintu gerbang untuk masuk ke pamukkale, yakni dari bagian bawah dekat dengan travertines dan bagian atas dekat dengan hierapolis.
Hierapolis adalah kota tua yang berdiri pada masa roman empire dan byzantine empire. Di namakan hierapolis karena dulunya di sini terdapat kuil hiera (salah satu dewa yunani). Di sini kita bisa menemukan sisa-sisa reruntuhan bangunan, katedral, kuil, tembok-tembok, pilar, amphiteather, dan kuburan-kuburan tua (necropolis). Hierapolis ini begitu luas, kami pun harus berjalan selama lebih dari 2 jam untuk menjelajahi tempat bersejarah ini.
Pilar-pilar bersejarah di kota tua, Hierapolis
Sisa-sisa reruntuhan kota Hierapolis
Lokasi berikutnya yang kami kunjungi adalah travertines. Travertines adalah batuan kapur atau gunung kapur yang terbentuk dari deposit kalsium karbonat. Batuan putih ini terbentuk secara alami sejak ribuan tahun yang lalu. Dari kejauhan Travertines terlihat seperti kolam bertingkat dengan air panas di dalamnya. Keindahan travertines membuat tempat ini selalu dipadati oleh pengunjung.
Setelah jalan-jalan di hierapolis dan travertine kami menuju tempat pemandian air panas yang terletak tidak jauh dari travertines. Dengan uang sebesar 25 Lira (12 Euro) kita bisa berendam dan menikmati air panas setelah cape seharian menempuh perjalanan. Di sana juga terdapat restaurant dan toko souvenir di mana kita bisa menikmati makan siang dan juga membeli oleh-oleh khas pamukkale.
Berendam di kolam air panas, Pamukkale
Setelah sehari penuh menjelajahi pamukkale kami kembali menuju attasher untuk melanjutkan perjalanan di hari berikutnya menuju Istanbul.
——————————————————————————————————-













Wow… amazing story kawan…. Seneng bisa berkunjung ke blog ini..
Salam kenal.
Selamat berlajar di negeri orang!
makasih. salam kenal mas bernando. terima kasih sudah berkunjung..
ooh itu batuan kapur. kirain tumpukan salju.
enak tuh buka sekolah disitu, tinggal modal papan tulis item, kapur udah banyak
Iya, dari jauh emang keliatan kaya salju. hehe..
hayyyy……kerennn!!!!! insyaallah gua sekitar september mo ksana
certiain lagi dooongk tentang turki
@hintatiwi: hay, thanks udah mampir di sini. lumayan enak klo pas september ke sana, ga terlalu panas..
Ka irfan, sy br baca buku ‘trip’ nya hanum rais, jd penasaran di Turki tuh sejarah mencatat Kara Mustofa Pasha-Dinasti Ottoman sbg pejuang-kah atau sm seperti anggapan bangsa eropa? Hehe…